Beritane.com – Pendeta Apollo Carreon Quiboloy, pemimpin gereja yang berbasis di Filipina, kini menjadi buruan FBI.
Apollo Quiboloy didakwa melakukan kejahatan serius termasuk hubungan seksual dengan perempuan dan gadis di bawah umur, serta melakukan ancaman dan “kutukan abadi” terhadap mereka yang tidak mematuhi perintahnya.
Berikut lima fakta penting tentang Apollo Quiboloy dan kasus yang melibatkannya:
1. Pemimpin Gereja Yesus Kristus
Apollo Quiboloy, 71 tahun, adalah pendiri dan pemimpin gereja Kerajaan Yesus Kristus yang didirikan pada tahun 1985. Gereja ini mengklaim memiliki sekitar 6 juta anggota di lebih dari 200 negara, dengan kantor pusat di Van Nuys, Los Angeles, AS.
Quiboloy dikenal sebagai pendukung setia Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan telah menggunakan platform media gereja untuk menyebarluaskan pandangannya.
2. Klaim sebagai Anak Tuhan
Quiboloy mengklaim dirinya sebagai “putra Tuhan yang ditunjuk” dan pada tahun 2019 mengklaim bahwa ia telah menghentikan gempa bumi besar yang akan melanda Filipina selatan.
Dakwaan baru terhadap Quiboloy mencakup berbagai tuduhan serius, seperti konspirasi, perdagangan seks anak, perdagangan seks dengan kekerasan, serta penipuan. Saat ini, Quiboloy diyakini berada di Filipina dan tetap menegaskan kesiapannya untuk menghadapi masalah hukum.
3. Keterlibatan dalam Perdagangan Manusia
Dakwaan terbaru menyebutkan bahwa Quiboloy dan para pengikutnya merekrut wanita dan gadis muda, berusia antara 12 hingga 25 tahun, untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan layanan pribadi, termasuk seks. Para korban dipaksa untuk menjalani “tugas malam” di bawah ancaman kekerasan dan kutukan, menurut dakwaan tersebut.
4. Pernikahan Palsu dan Penipuan Visa
Quiboloy juga dituduh membawa anggota gereja ke AS dengan visa pelajar palsu dan pernikahan fiktif untuk mengumpulkan sumbangan untuk badan amal gereja yang berpusat di Glendale, California. Beberapa mantan pekerja gereja mengungkapkan bahwa mereka mengalami kekerasan fisik dan psikologis jika tidak memenuhi target harian.
5. Penggelapan Dana Sumbangan
Dana untuk lembaga nirlaba Children’s Joy Foundation USA yang seharusnya digunakan untuk membantu anak-anak miskin di Filipina diduga disalahgunakan untuk mendanai operasional gereja dan gaya hidup mewah Quiboloy serta pemimpin gereja lainnya.
Jaksa penuntut menyebutkan bahwa sekitar USD 20 juta telah dikembalikan ke Filipina antara tahun 2014 dan 2019 untuk kepentingan gereja.
Kasus ini terus berkembang, dan pihak berwenang di Filipina serta AS berupaya menangani berbagai tuduhan yang membelit Quiboloy dan organisasinya.













