Beritane.com – Dalam suasana penuh duka dan penghormatan, ribuan umat Katolik serta tokoh dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk menyaksikan prosesi pemakaman Paus Fransiskus yang digelar dengan penuh khidmat.
Acara yang digelar Sabtu pagi waktu setempat di Lapangan Santo Petrus ini menjadi momen bersejarah, sekaligus perpisahan terakhir dengan pemimpin spiritual yang begitu dicintai.
Upacara dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat (15.00 WIB), diawali dengan misa khusus di Basilika Santo Petrus. Setelah misa berakhir, peti jenazah Paus Fransiskus dibawa dengan pengawalan khusus menuju Basilika Santa Maria Maggiore—lokasi pemakaman yang secara pribadi telah dipilih Paus sebelum wafatnya.
Dalam surat wasiatnya yang ditulis pada 29 Juni 2022, Paus Fransiskus dengan jelas menyampaikan keinginannya untuk dikebumikan di lorong samping Basilika Santa Maria Maggiore, antara Kapel Paulus dan Kapel Sforza.
Ia juga meminta agar pemakamannya dilaksanakan secara sederhana tanpa hiasan mewah, hanya dengan nama “Franciscus” terukir dalam bahasa Latin di atas makamnya.
Rombongan pembawa peti jenazah menempuh jarak sekitar 3,2 kilometer dari Vatikan, melintasi Sungai Tiber dan pusat Kota Roma.
Jalur yang dilalui menyusuri situs-situs bersejarah seperti Piazza Venezia dan Colosseum, menciptakan suasana haru yang tak terlupakan. Umat dan peziarah yang memadati sepanjang jalan memberikan penghormatan terakhir dengan doa dan nyanyian.
Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi ketika iring-iringan berhenti sejenak di sebuah titik perhentian khusus. Di sana, sekitar 40 orang dari kalangan miskin dan marginal diberi kesempatan untuk berpamitan secara langsung—menggambarkan kedekatan Paus Fransiskus dengan kaum tertindas selama masa kepemimpinannya.
Pemakaman di Santa Maria Maggiore menandai perubahan tradisi besar dalam sejarah Gereja Katolik. Selama empat abad terakhir, para paus umumnya dimakamkan di Basilika Santo Petrus atau Basilika San Giovanni in Laterano. Paus Fransiskus kini tercatat sebagai paus pertama dalam 400 tahun terakhir yang dimakamkan di basilika tertua di Roma tersebut.
Santa Maria Maggiore sendiri merupakan salah satu dari empat basilika kepausan utama dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Sejak berdiri pada abad ke-5, tempat ini menjadi saksi bagi perjalanan panjang Gereja Katolik. Selain Paus Fransiskus, tercatat tujuh paus lainnya pernah dimakamkan di sini, termasuk Paus Pius V dan Paus Sistus V.
Prosesi pemakaman Paus Fransiskus juga menjadi ajang solidaritas global. Lebih dari 200 ribu pelayat hadir, bersama dengan 130 lebih delegasi internasional dari berbagai negara. Keamanan diperketat dengan pengerahan 4.000 personel, zona larangan terbang, dan sistem pertahanan anti-drone untuk menjaga kelancaran prosesi.
Sejumlah tokoh penting dunia turut hadir dalam upacara ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump hadir bersama mantan Presiden Joe Biden dan istri. Turut hadir pula Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, serta Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva.
Dari kalangan kerajaan, tampak Pangeran William mewakili Kerajaan Inggris, Raja Felipe VI dan Ratu Letizia dari Spanyol, serta utusan kerajaan dari negara-negara Eropa lainnya seperti Belgia, Swedia, dan Monako. Dari Asia Tenggara, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta turut memberi penghormatan. Indonesia mengirimkan delegasi khusus yang dipimpin oleh Presiden ke-7 Joko Widodo atas utusan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan seluruh dunia mengiringi kepergian beliau, prosesi pemakaman Paus Fransiskus tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol persatuan dan kemanusiaan. Warisan moral dan spiritual Paus Fransiskus, yang selalu berpihak pada kaum miskin dan menjunjung tinggi kesederhanaan, akan terus hidup dalam ingatan umat Katolik dan masyarakat dunia.
Prosesi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kenangan yang akan terus dikenang oleh generasi mendatang. Dengan kesederhanaan dan cinta kasih sebagai warisan utama, prosesi pemakaman Paus Fransiskus menjadi cermin dari kehidupan yang ia jalani: penuh kasih, pengabdian, dan kerendahan hati.













