Beritane.com – Herzi Halevi, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, telah mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri dari jabatannya setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas tercapai.
Menurut laporan Channel 12 Israel, Halevi akan meninggalkan posisinya segera setelah gencatan senjata diumumkan.
Halevi telah sering mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait kegagalan dalam merumuskan strategi perang yang efektif.
Ia menekankan pentingnya mencapai kesepakatan yang dapat memastikan kembalinya para sandera dan mengatasi kegagalan keamanan yang terjadi pada 7 Oktober lalu.
Sementara itu, pembicaraan gencatan senjata terus berlanjut di Kairo minggu ini, namun ada kekhawatiran bahwa kesepakatan antara Israel dan Hamas mungkin tidak tercapai.
Situs berita Amerika Axios melaporkan pada hari Senin bahwa terdapat dua hambatan utama dalam negosiasi gencatan senjata: Israel ingin mempertahankan kendali militer atas koridor Philadelphia di perbatasan Mesir-Gaza dan membentuk mekanisme untuk mencegah penyelundupan senjata.
Hamas menolak kedua tuntutan tersebut. Herzi Halevi diperkirakan akan mengajukan pengunduran dirinya bersama pejabat senior lainnya.
Media Israel melaporkan bahwa Halevi telah menyatakan dalam pertemuan tertutup bahwa dia akan mengundurkan diri setelah gencatan senjata sementara tercapai antara Israel dan Perlawanan Palestina di Gaza. Keputusan ini juga diperkirakan akan diikuti oleh pejabat lainnya.
Halevi sebelumnya menyatakan tanggung jawabnya atas kegagalan IDF dalam melindungi warga Israel pada 7 Oktober 2023.
“Sebagai komandan IDF pada perang tersebut, saya bertanggung jawab atas kegagalan kami dalam melindungi warga negara Israel,” ujar Halevi pada bulan Mei lalu.
Perpecahan internal di Israel semakin jelas, dengan pernyataan yang bertentangan dari para pemimpin politik dan militer mengenai perang di Gaza dan rencana pascaperang.
Krisis ini diperburuk oleh tekanan dari para pemukim yang hampir setiap hari melakukan protes menuntut kesepakatan gencatan senjata untuk pembebasan tawanan Israel.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengkritik staf umum tentara Israel, menyebutnya sebagai “salah satu bencana terbesar dalam sejarah Israel.”













