Beritane.com – Survei Konsumen terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa tingkat keyakinan konsumen tetap stabil pada bulan Juli, didorong oleh persepsi positif masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Namun, analisis mendalam mengungkapkan adanya penurunan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi Indonesia di masa depan.
Menurut hasil survei Bank Indonesia, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang mengukur keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, mengalami penurunan.
Data menunjukkan bahwa IEK menurun pada bulan Juli, mencerminkan kekhawatiran masyarakat mengenai penurunan pendapatan dan stagnansi lapangan kerja.
Kelompok masyarakat dengan pengeluaran tinggi, yaitu di atas Rp5 juta, mengalami penurunan terbesar dalam IEK, turun hingga 11,3 poin.
Meskipun indeks ini masih berada pada level ekspansi di angka 125,9, ini merupakan level terendah sejak November 2022.
Penurunan signifikan terutama terlihat pada ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja, yang turun 15,4 poin ke level terendah sejak Oktober 2022, serta ekspektasi terhadap kegiatan usaha yang menurun 10,5 poin.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap penghasilan di kalangan kelompok pengeluaran lebih dari Rp5 juta juga menurun 8 poin, mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir.
Sebaliknya, responden dengan pengeluaran di bawah Rp5 juta mencatatkan kenaikan ekspektasi penghasilan.
Survei juga mencatat perubahan dalam pola pengeluaran masyarakat Indonesia pada bulan Juli. Secara umum, alokasi pengeluaran untuk konsumsi turun menjadi 73,8%, level terendah sejak Mei.
Sementara itu, pengeluaran untuk cicilan utang meningkat menjadi 10,7% dan alokasi untuk tabungan turun menjadi 15,5%, terendah sejak November 2023.
Pada kelompok pengeluaran menengah atas dan atas, terjadi penurunan signifikan dalam pengeluaran untuk konsumsi.
Misalnya, kelompok dengan pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta mengalami penurunan konsumsi menjadi 69,5%, sementara pengeluaran untuk cicilan utang naik menjadi 14,4%.
Kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta juga menunjukkan tren serupa dengan alokasi konsumsi turun menjadi 65,9%, sementara alokasi untuk cicilan utang meningkat menjadi 17,8%.
Kelompok menengah dengan pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta mengalami penurunan pengeluaran konsumsi menjadi 72,9%, terendah dalam tiga bulan terakhir. Pengeluaran cicilan naik menjadi 11,7% dan tabungan turun menjadi 15,4%.
Untuk kelompok pengeluaran terbawah, yaitu Rp1 juta hingga Rp2 juta, pengeluaran konsumsi naik 0,7%, meskipun alokasi untuk tabungan dan cicilan utang mengalami penurunan.
Kelompok menengah dengan pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta juga menunjukkan kenaikan konsumsi dan cicilan pinjaman, namun alokasi untuk tabungan turun hingga 2% menjadi 15,5%.
Hasil survei ini sejalan dengan kondisi deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut, dengan deflasi terdalam tercatat pada bulan Juli.
Deflasi berkelanjutan ini mengingatkan pada masa pandemi Covid-19 yang mempengaruhi perekonomian. Penurunan konsumsi yang berkelanjutan dapat mengancam pertumbuhan ekonomi pada kuartal mendatang, terutama karena konsumsi rumah tangga merupakan pendorong utama perekonomian.
Pada kuartal II-2024, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 54,53% dari sebelumnya 54,93% pada kuartal sebelumnya, kemungkinan karena efek konsumsi Ramadan-Lebaran yang sudah berakhir. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2023 yang sebesar 53,34%.
Jika penurunan konsumsi terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2024 dapat terancam, mengingat peran konsumsi rumah tangga yang krusial bagi perekonomian.
Sumber: Bloomberg Technoz











