Beritane.com – JPMorgan Chase telah meningkatkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat pada tahun ini. Peningkatan ini dipicu oleh kekhawatiran baru terkait stabilitas finansial setelah fluktuasi pasar yang terjadi minggu ini.
Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global JPMorgan, dalam catatan terbarunya kepada klien yang dilaporkan CNBC International pada Jumat (9/8/2024), menyebutkan bahwa bank tersebut kini memperkirakan probabilitas resesi AS atau global mencapai 35% pada akhir tahun 2024.
Angka ini mengalami kenaikan dari estimasi sebelumnya yang sebesar 25% pada laporan prospek tengah tahun.
Di sisi lain, JPMorgan mempertahankan proyeksi resesi untuk paruh kedua tahun 2025 pada angka 45%. Prediksi ini muncul di tengah keraguan investor mengenai apakah perlambatan ekonomi sudah mendekati titik kritis, terutama setelah laporan pekerjaan yang mengecewakan minggu lalu.
Namun, ada beberapa berita positif terkait pasar tenaga kerja. Pada Kamis (8/8/2024), data klaim pengangguran mingguan menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi ekonom.
Kasman mengidentifikasi adanya “pergeseran positif yang signifikan” dalam risiko inflasi di AS, sebagian besar dipicu oleh meredanya tekanan pada pasar tenaga kerja seiring penurunan permintaan.
Dia mencatat bahwa laju inflasi upah melambat secara berbeda dibandingkan dengan ekonomi maju lainnya, dengan biaya tenaga kerja per unit kini “disesuaikan kembali ke tingkat yang umumnya konsisten” dengan target inflasi Federal Reserve.
Perubahan ini menyebabkan Kasman mengurangi kemungkinan skenario suku bunga tinggi dalam jangka panjang. Meskipun Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu lalu, kontrak berjangka dana Fed memperkirakan kemungkinan pemotongan suku bunga pada pertemuan September, seperti yang tercatat dalam alat FedWatch CME.
Kasman menekankan bahwa meskipun probabilitas resesi meningkat, investor tidak perlu menganggap semua indikator mengarah ke resesi. Dia menyebutkan bahwa peningkatan risiko resesi jangka pendeknya bersifat moderat.
“Lebih mendasar lagi, kerentanan yang biasanya terkait dengan resesi—seperti penurunan margin keuntungan yang berkelanjutan atau tekanan pasar kredit, serta guncangan pasar energi atau keuangan—tidak terlihat secara mencolok,” jelas Kasman.
Kasman bukan satu-satunya yang mengubah ekspektasi resesi. Goldman Sachs juga meningkatkan estimasi mereka menjadi 25% dari sebelumnya 15% pada akhir pekan, meskipun mereka percaya bahwa resesi dapat dihindari berkat kemampuan Fed untuk menurunkan suku bunga atau membeli obligasi.
CEO JPMorgan, Jamie Dimon, sebelumnya telah menyatakan kekhawatirannya mengenai kemungkinan resesi di AS. Dimon memperkirakan peluang untuk ‘soft landing’ ekonomi AS berada pada kisaran 35% hingga 40%, menunjukkan bahwa resesi merupakan skenario yang cukup mungkin.
“Ada banyak ketidakpastian di luar sana, mulai dari geopolitik hingga defisit dan pengeluaran pemerintah. Semua faktor ini berkontribusi pada kekhawatiran di pasar,” kata Dimon.
Meskipun telah memperingatkan adanya potensi ‘badai’ ekonomi sejak 2022, Dimon mengakui bahwa ekonomi AS telah bertahan lebih baik dari yang diperkirakan.
Namun, Dimon menyatakan skeptisisme terhadap kemampuan Federal Reserve untuk menurunkan inflasi ke target 2%, terutama mengingat pengeluaran besar untuk ekonomi hijau dan sektor militer yang terus meningkat.
“Saya tetap optimis bahwa kita akan baik-baik saja meskipun menghadapi resesi ringan atau bahkan yang lebih berat. Namun, saya sangat peduli terhadap mereka yang kehilangan pekerjaan. Kita tentu tidak ingin mengalami pendaratan yang keras,” tutup Dimon.
Sumber: CNBC Indonesia









