Beritane – Pulau Sarangbaung, yang terletak di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, menyimpan kisah suram di balik puluhan rumah kosong yang ada di sana.
Keberadaan rumah-rumah tak berpenghuni ini menjadi saksi bisu tragedi yang melanda wilayah tersebut sejak gempa berkekuatan 8,2 skala Richter mengguncang Nias pada tahun 2005.
Akibat bencana tersebut, banyak penduduk memilih untuk meninggalkan pulau ini dan mencari tempat tinggal baru.
Dari hasil penelusuran bahwa Pulau Sarangbaung dulu merupakan tempat tinggal bagi banyak Kepala Keluarga yang membangun rumah-rumah permanen.
Selain itu, pulau ini juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas umum, seperti sebuah gedung Sekolah Dasar, sebuah surau atau mushola, serta sebuah tower BTS dari salah satu operator seluler.
Pulau Sarangbaung terletak di antara Pulau Nias dan Pulau Banyak (Aceh), dan termasuk dalam wilayah Kecamatan Sawo, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara.
Menurut Eka Kurniawan Telaumbanua, seorang warga Nias Utara, rumah-rumah yang kini kosong tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya sejak 19 tahun lalu, bersama dengan fasilitas umum lainnya, pasca-gempa 2005.
Eka menjelaskan, “Puluhan rumah kosong ini ditinggalkan pemiliknya setelah gempa di Nias pada tahun 2005. Selain itu, satu unit Sekolah Dasar, rumah ibadah, dan tower jaringan Telkomsel juga ditinggalkan.”
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa penduduk Pulau Sarangbaung meninggalkan tempat mereka setelah gempa, dan ke mana mereka berpindah?
Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa banyak penduduk kini telah pindah ke Desa Seriwau di Kecamatan Sawo, Nias Utara.
Beberapa alasan mengungkapkan bahwa ketakutan atau trauma akibat gempa dan tsunami menjadi faktor utama.
Sementara yang lain menyebutkan alasan yang lebih praktis, seperti mencari kesempatan yang lebih baik untuk pendidikan dan kesejahteraan generasi mendatang.
Aswin Halawa, seorang keturunan penduduk Pulau Sarangbaung, mengungkapkan bahwa alasan utama mereka meninggalkan pulau bukan semata-mata karena ketakutan akan gempa atau tsunami yang mungkin terjadi di masa depan, tetapi lebih kepada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan generasi berikutnya.
“Dulu di pulau kami hanya tersedia fasilitas pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar,” ungkap Aswin.
Saat ini, Pulau Sarangbaung menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik, terkenal dengan keindahan dan ketenangannya.
Untuk mencapai pulau ini, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar 2 jam dengan speedboat dari daratan Kecamatan Sawo (Pulau Nias).










