beritane.com
beritane.com

Guru Gembul Soroti Isu Nasab dan Pengkultusan dalam Diskusi di Rabithah Alawiyah

Avatar photo
Guru Gembul Rabithah Alawiyah

Beritane – Guru Gembul menjadi pembicara utama dalam Diskusi dan Seminar yang diadakan oleh Rabithah Alawiyah mengenai isu nasab dan keislaman.

Acara yang disiarkan langsung melalui saluran YouTube Nabawi TV ini menghadirkan Guru Gembul memberikan pandangannya mengenai fenomena yang melibatkan Habib Bahar Bin Smith.

Dalam diskusi tersebut, Guru Gembul mengungkapkan kekhawatirannya terhadap praktik yang dilakukan oleh para pengikut Habib Bahar, yang sering kali menjadi kontroversi.

Ia menyoroti perilaku sejumlah santri yang mencium kaki Habib Bahar dan berjalan dengan gaya seperti bebek sebagai bentuk pengkultusan yang berlebihan.

“Habib Bahar yang kontroversial itu, kakinya diciumi oleh santri yang ngantri jalan seperti bebek,” ujar Guru Gembul dikutip dari Viva pada Kamis (12/9/2024).

Ia mengajak audiens untuk merenungkan bagaimana aksi tersebut bisa mempengaruhi perasaan umat Islam lainnya. Menurutnya, tindakan tersebut bisa menyinggung dan menyakiti banyak orang.

Guru Gembul juga menyoroti potensi dampak negatif jika fenomena ini dipublikasikan di media sosial oleh pihak-pihak di luar Islam.

Ia memberikan contoh kemungkinan seorang non-Muslim menggunakan video tersebut dalam perdebatan online, yang bisa memperburuk citra Islam di mata publik.

“Bayangkan jika video ini dibawa dalam perdebatan antara umat Islam dan Kristen di media sosial. Bagaimana reaksi orang-orang non-Muslim melihat sikap tersebut?” ungkapnya.

Habib Bahar Bin Smith dikenal sebagai tokoh agama yang sering mendapat sorotan karena ceramahnya yang lantang serta perilaku santrinya yang unik.

Video-video yang menunjukkan santri-satri tersebut berjalan dengan gaya tertentu dan mencium kaki Habib Bahar sempat viral, memicu diskusi tentang kesesuaian praktik tersebut dengan ajaran Islam.

Guru Gembul mengingatkan pentingnya sikap bijaksana dalam menyikapi figur pemimpin agama.

Ia mengajak masyarakat untuk memegang teguh prinsip-prinsip Islam yang mengutamakan kesopanan dan penghormatan yang wajar, serta menghindari pengkultusan individu yang berlebihan.

Rabithah Alawiyah Tanggapi Keresahan Guru Gembul

Rabithah Alawiyah akhirnya memberikan respons terkait kontroversi mengenai nasab (garis keturunan Nabi Muhammad) yang belakangan ini mengemuka, termasuk isu yang melibatkan Habib Bahar bin Smith.

Beberapa pihak meragukan status keturunan Nabi Muhammad pada Habib Bahar karena beberapa tindakan dan pernyataannya yang dianggap kontroversial, yang juga diungkapkan oleh Guru Gembul.

Guru Gembul mengkritik beberapa perilaku Habib Bahar yang dinilai bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.

Salah satu kritik yang disampaikan adalah anggapan bahwa Habib Bahar lebih mulia dibandingkan 70 ulama atau kiai, yang menurut Guru Gembul menciptakan kesan pengkultusan yang tidak sesuai dengan prinsip keislaman.

Menanggapi hal ini, Fikri Shahab, perwakilan Rabithah Alawiyah, menyampaikan apresiasi terhadap kritik yang disampaikan oleh Guru Gembul. Dalam tayangan di Nabawi TV, Fikri menekankan pentingnya memahami keresahan daripada menghakimi.

Ia mengatakan, “Kami menghargai ketika seseorang mengungkapkan keresahannya. Tugas kami adalah memahami, bukan menghakimi.”

Fikri juga menegaskan bahwa Rabithah Alawiyah turut merasakan keresahan yang sama seperti yang disampaikan oleh Guru Gembul.

“Rabithah Alawiyah juga mengalami keresahan serupa. Ini mungkin merupakan hasil dari permasalahan yang sudah ada sebelumnya dan kini muncul kembali dalam isu nasab,” ujarnya.

Fikri menjelaskan bahwa Rabithah Alawiyah sering melakukan koreksi dan memberikan nasehat kepada kalangan habaib. Namun, tidak semua kritik diterima dengan baik.

“Kami telah melakukan kritik terhadap alawiyyin sebelumnya, baik secara tertulis maupun dalam bentuk video. Beberapa diantaranya diterima, sementara yang lainnya mendapat protes,” jelasnya.

Ia juga menggarisbawahi perbedaan jumlah dan kualitas pendidikan antara alawiyyin di masa lalu dan saat ini.

“Dulu, alawiyyin jumlahnya sedikit dengan pendidikan yang terbatas. Sekarang, jumlah mereka banyak dengan pendidikan yang beragam dan tersebar di berbagai negara,” kata Fikri.

Menurutnya, masalah-masalah pribadi yang melibatkan alawiyyin sering kali lebih mendapat sorotan publik karena nasab mereka.

Fikri menegaskan bahwa Rabithah Alawiyah tidak membenarkan perilaku yang dianggap keliru.

“Kami tidak pernah membenarkan perilaku yang salah. Apakah kami memberikan dukungan atau endorsement terhadap perilaku Habib Bahar? Tidak pernah. Kami tidak memberikan panggung untuk tindakan seperti itu,” katanya.

Ia juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan Habib Bahar yang menganggap satu habaib lebih mulia daripada 70 kiai.

“Kami kaget dengan pernyataan seperti itu dan kami menolaknya. Hal ini tidak sesuai dengan pandangan kami dan juga dianggap asing oleh kalangan alawiyyin,” ujarnya.

Fikri mengakui bahwa sosok Habib Bahar sering kali mendapat liputan media yang lebih luas dibandingkan Rabithah Alawiyah.

“Sayyid Bahar sering muncul di media mainstream, sementara kami tidak. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih sering melihat sosok Bahar sebagai sampel utama, meskipun jumlahnya mungkin tidak mewakili keseluruhan,” katanya.

Fikri berharap masyarakat dapat mempertimbangkan berbagai perspektif dan tidak hanya mengandalkan media sebagai satu-satunya sumber informasi dalam menilai isu nasab dan keislaman.