beritane.com
beritane.com

Elon Musk Kecam Penangkapan Pavel Durov di Prancis

Avatar photo
Penangkapan Pavel Durov

Beritane.com – Penangkapan Pavel Durov, pendiri Telegram di Prancis pada akhir pekan kemarin membuat Elon Musk ikut berkomentar di media sosialnya.

Elon Musk telah memberikan tanggapan keras terhadap penangkapan Pavel Durov, CEO Telegram, yang terjadi di Prancis pada Sabtu (24/6/2024).

Dalam komentarnya di akun X miliknya, Musk mengkritik tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat.

Musk mengekspresikan ketidaksukaannya dengan menulis “Liberté Liberté! Liberté?” di akun X-nya, dan mengungkapkan kekhawatirannya mengenai situasi tersebut dengan menyebutnya “waktu yang berbahaya” di postingan lainnya.

Ia juga menggunakan tagar #FreePavel dan membagikan video yang menunjukkan Durov mendukung gerakan Musk untuk kebebasan berpendapat dalam sebuah wawancara dengan Tucker Carlson awal tahun ini.

“Sangat penting untuk mendukung kebebasan berpendapat, terutama di negara-negara yang mengutamakan penyensoran,” tulis Musk di X.

Musk turut me-repost cuitan dari CEO Rumble, Chris Pavlovski, yang mengecam tindakan Prancis terhadap Durov, seperti yang dilaporkan oleh Business Insider pada Senin (26/8/2024).

Setelah akuisisi Twitter dan perubahan namanya menjadi X, Musk secara konsisten mengemukakan pentingnya kebebasan berpendapat.

Meski begitu, Musk dikenal memiliki rekam jejak membatasi kritik terhadap dirinya sendiri, termasuk memecat karyawan yang tidak sependapat dan memblokir akun-akun yang mengkritiknya.

Alasan Penangkapan Pavel Durov

Prancis belum memberikan pernyataan resmi mengenai penangkapan Durov. Namun, menurut sumber kepolisian Prancis dan Rusia, Durov ditangkap segera setelah tiba di bandara Le Bourget menggunakan jet pribadi dari Azerbaijan.

Polisi telah mengetahui keberadaan Durov dalam daftar penumpang dan bergerak cepat untuk menangkapnya berdasarkan surat perintah yang telah dikeluarkan.

Penangkapan Durov terkait dengan investigasi awal yang dilakukan oleh OFMIN (Kantor Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Bawah Umur) Prancis.

Lembaga ini telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Durov dengan tuduhan meliputi pencucian uang, perdagangan narkoba, dan penyebaran konten pelecehan seksual anak melalui Telegram.

Kurangnya moderasi pada platform Telegram dan dugaan pemanfaatannya oleh kelompok kriminal menjadi alasan utama dalam kasus ini.

Media lokal seperti BFMTV dan TF1 melaporkan bahwa penyelidikan difokuskan pada kemungkinan eksploitasi Telegram oleh kelompok kriminal serta dugaan kegagalan Durov dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif.

Telegram awalnya merupakan aplikasi chatting, namun kini berkembang menjadi jejaring sosial besar yang memungkinkan pengguna untuk bergabung dalam grup besar dan membuat saluran siaran.

Dengan 950 juta pengguna aktif bulanan, Telegram telah menjadi platform utama untuk informasi dan disinformasi terkait berbagai isu, termasuk invasi Rusia ke Ukraina.

Telegram menawarkan fitur pesan terenkripsi ujung ke ujung dan memungkinkan pengguna untuk membuat saluran untuk menyebarkan informasi kepada pengikut.

Aplikasi ini populer di bekas Uni Soviet dan banyak digunakan oleh politisi Ukraina untuk menyebarluaskan informasi perang.

Telegram juga menjadi salah satu dari sedikit platform di Rusia di mana informasi mengenai konflik Ukraina dapat diakses tanpa filter, terutama setelah pemerintah Rusia memperketat kontrol media.

Enkripsi yang kuat pada Telegram menjadikannya platform favorit bagi ekstremis dan penyebar teori konspirasi. Telegram telah diidentifikasi sebagai alat propaganda bagi kelompok-kelompok radikal di berbagai belahan dunia.

Didirikan oleh Pavel Durov yang berasal dari Rusia dan berbasis di Dubai, Telegram menghadapi sedikit tekanan untuk memoderasi kontennya di UEA, sementara di negara-negara Barat terdapat upaya ketat untuk mengatasi ujaran kebencian dan penyebaran konten ilegal.