Beritane.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pentingnya memperkuat kerjasama antara negara-negara di kawasan selatan-selatan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
Dalam acara High Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships yang digelar oleh Bappenas di Bali, Pelaksana Tugas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menekankan bahwa kolaborasi antara negara-negara selatan-selatan sangat penting dalam membangun ketahanan bersama terhadap perubahan iklim.
“Perubahan iklim merupakan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Kerjasama antar negara selatan-selatan sangat diperlukan untuk membangun ketahanan bersama,” ungkap Dwikorita dikutip pada Jumat (6/9/2024).
Forum yang mengusung tema “Rising Sea Level: Strategic Responses for Sustainable Development” tersebut juga dihadiri oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
Dwikorita Karnawati menyoroti bahwa perubahan iklim adalah masalah global yang tidak mengenal batas teritorial, sehingga memerlukan upaya kolaboratif antar negara.
Dwikorita menjelaskan bahwa kolaborasi antar negara berperan penting dalam menjembatani kesenjangan yang ada melalui penelitian, pengembangan pendidikan, serta peningkatan layanan iklim yang berkelanjutan.
“Kesenjangan dalam teknologi dan literasi iklim antar negara, terutama di kawasan selatan-selatan, masih sangat besar. Banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap dampak perubahan iklim akibat minimnya pemahaman mengenai isu ini,” jelasnya.
Sebagai contoh, Dwikorita menunjukkan bahwa meskipun perubahan iklim sering dibahas, sering kali hanya dianggap sebagai isu tanpa aksi nyata. Hal ini berdampak pada efektivitas sistem peringatan dini yang ada.
“Kerjasama dan kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan semua negara terhadap perubahan iklim sebagai respons terhadap situasi bumi saat ini,” tegasnya.
Dwikorita juga memaparkan bahwa suhu global saat ini telah naik 1,45 derajat Celsius di atas rata-rata periode pra-industri tahun 1850-1900, yang berkontribusi pada akselerasi kenaikan permukaan laut.
Rata-rata kenaikan permukaan laut global meningkat dari 2,1 mm per tahun antara 1993 dan 2002 menjadi 4,4 mm per tahun antara 2013 dan 2021, atau meningkat dua kali lipat dalam periode tersebut.
Hal ini sebagian besar disebabkan oleh hilangnya es di kutub yang dipercepat oleh melelehnya gletser dan lapisan es lautan. “Situasi ini sangat serius dan memerlukan respons yang serius pula,” tambah Dwikorita.
Dalam rangka mengatasi isu tersebut, BMKG telah menjalin kerjasama dengan negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik sejak tahun 2017, termasuk Papua Nugini, Tonga, dan Kepulauan Solomon.
Kerjasama ini meliputi pelatihan dalam prakiraan cuaca numerik, tinggi gelombang, monitoring kekeringan, serta program terkait keamanan wilayah pesisir laut dan sistem peringatan dini.
Selain itu, Dwikorita juga menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan dan standar dalam sistem pengukuran kenaikan permukaan laut.
Sinergi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, yang disertai dengan kearifan lokal, diharapkan dapat meminimalisir dan mengantisipasi ancaman bencana secara maksimal.











