beritane.com
beritane.com

Ridwan Kamil Semakin Dekat Maju di Pilkada Jakarta 2024, Nasib Anies Baswedan Masih Tidak Jelas

Avatar photo
Ridwan Kamil Pilkada Jakarta
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kiri) dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk F. Paulus memakaikan jaket partai kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menjadi kader Partai Golkar di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 18 Januari 2023. Tempo/M Taufan Rengganis

Beritane.com – Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil semakin menunjukkan keseriusannya untuk maju dalam Pilkada Jakarta 2024.

Sebaliknya, masa depan Anies Baswedan dalam kontestasi tersebut masih belum pasti.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan sinyal kuat bahwa Ridwan Kamil (RK) akan mencalonkan diri di Jakarta.

Sementara itu, Golkar memutuskan untuk mendukung mantan kadernya yang kini menjadi anggota Gerindra, Dedi Mulyadi, untuk Pilkada Jawa Barat.

“RK sedang dalam jalur menuju DKI,” ungkap Airlangga Hartarto saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Senin (5/8).

Sejak awal, Koalisi Indonesia Maju (KIM), yang mendukung pasangan presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, telah mencalonkan nama RK untuk Pilgub Jakarta.

Partai Gerindra, terutama, sangat mendukung pencalonan RK di Jakarta, sedangkan Golkar, partai RK, lebih memilih untuk mengusungnya di Jawa Barat.

Survei terbaru oleh Saiful Mujani Research Center (SMRC) menunjukkan bahwa elektabilitas RK di Jawa Barat mencapai 50,6 persen, sedangkan Dedi Mulyadi berada di angka 25,1 persen.

Di Pilkada Jakarta, Ridwan Kamil berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 8,5 persen menurut survei Litbang Kompas, sementara Anies Baswedan memimpin dengan 29,8 persen.

Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengungkapkan bahwa RK akan diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) bersama Gerindra, Golkar, PAN, dan Demokrat.

Ada kemungkinan beberapa partai lain juga akan bergabung, namun Dasco belum mengungkapkan nama-nama partai tersebut.

Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid mengatakan bahwa PKB sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan KIM Plus dalam Pilkada.

“Kita pertimbangkan, kita pertimbangkan, karena sudah ada tawaran publik. PKB akan mempertimbangkan demi kebaikan Jakarta dan Indonesia,” ujar Jazilul di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai bahwa pencalonan RK oleh Golkar di Pilkada Jakarta bukanlah keputusan yang sembrono, meskipun elektabilitasnya saat ini rendah.

Ia percaya bahwa RK memiliki peluang besar untuk menang jika Anies Baswedan tidak maju dalam Pilgub Jakarta, terutama jika KIM Plus terbentuk.

Agung berpendapat bahwa jika PKS, NasDem, dan PKB berpaling dari mendukung Anies dan beralih mendukung RK, maka peluang RK untuk menang di Jakarta akan semakin terbuka.

“Jika PKS dan partai pendukung lainnya mengalihkan dukungan mereka dari Anies ke RK, maka Golkar membuat keputusan yang rasional, bukan nekat,” katanya.

Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), mencatat bahwa ada kekuatan di balik layar yang ingin mencegah Anies Baswedan memenangkan Pilkada Jakarta. Ia menilai rivalitas dalam Pilpres 2024 mungkin masih mempengaruhi Pilkada Jakarta.

“Satu-satunya pesaing utama Anies di Jakarta adalah Ridwan Kamil. Jokowi mungkin juga menginstruksikan agar Jakarta tetap dikuasai oleh kelompok pemenang Pilpres,” ujar Dedi seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut Dedi, strategi untuk melawan Anies bisa melibatkan pembelian dukungan partai politik, sehingga hanya KIM Plus yang memiliki calon kuat.

Ia juga menilai bahwa tekanan kepada Golkar untuk mendukung RK di Jakarta mungkin berasal dari kebutuhan untuk mengikuti arah politik koalisi penguasa, bukan hanya berdasarkan kalkulasi internal Golkar.

Di sisi lain, jika RK mencalonkan diri di Jawa Barat, tidak ada tokoh dari KIM yang memiliki elektabilitas tinggi untuk menantang Anies. Hal ini dapat menjadi alasan mengapa RK didorong untuk maju di Jakarta.

“Tekanan terhadap Golkar tidak ringan. KIM tidak memiliki tokoh yang kuat, dan ini mungkin yang membuat Golkar lebih memilih untuk mengusung RK di Jakarta,” tambah Dedi.