beritane.com
beritane.com

Pemakaman Paus Fransiskus, Pikap Lawas untuk Mengantar Kepergian Sang Pemimpin Gereja

Avatar photo
Pemakaman Paus Fransiskus Pakai Pikap Lawas

Beritane.com – Prosesi pemakaman Paus Fransiskus yang berlangsung pada Sabtu, 26 April 2025, meninggalkan kesan mendalam bagi umat Katolik dan dunia internasional.

Bukan hanya karena sosoknya yang dikenal rendah hati, tetapi juga karena sederet keputusan tidak biasa yang mewarnai hari terakhirnya, termasuk pilihan kendaraan yang mengiringi peti matinya.

Alih-alih menggunakan kendaraan mewah sebagaimana lazimnya dalam seremoni tingkat tinggi, jenazah Paus Fransiskus diantar menggunakan sebuah pikap lawas: Dodge Ram 1500 tahun produksi 2018.

Kendaraan ini jelas berbeda dari deretan mobil kepausan sebelumnya seperti Lamborghini, Mercedes-Benz, atau Jeep yang sempat ia gunakan dalam berbagai acara resmi.

Menurut laporan Beritasatu.com, mobil ini awalnya dijual dengan harga sekitar 15.295 dolar AS atau setara dengan Rp197 juta.

Di Amerika Serikat, Dodge Ram 1500 dikenal sebagai kendaraan serbaguna yang banyak digunakan oleh petani, teknisi, dan pekerja konstruksi karena daya tahan serta kemampuannya di medan berat—bukan untuk gaya atau status.

Meski Vatikan belum mengeluarkan keterangan resmi soal alasan pemilihan mobil ini, banyak yang menduga bahwa ini adalah bagian dari wasiat pribadi Paus Fransiskus.

Jika benar, maka pilihan tersebut menjadi cerminan konsisten dari prinsip hidupnya: kesederhanaan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan umat.

Prosesi pemakaman Paus Fransiskus pun berlangsung sangat sederhana. Tak ada kemegahan dalam tata cara pemakaman, bahkan peti matinya dibuat dari kayu biasa tanpa ornamen emas atau hiasan mewah.

Ia juga dimakamkan bukan di ruang bawah tanah Vatikan seperti para paus sebelumnya, melainkan di area terbuka yang mudah diakses umat.

Paus Fransiskus, yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, wafat pada usia 88 tahun di hari Senin Paskah.

Upacara penghormatan terakhir digelar di Lapangan Santo Petrus dan dihadiri oleh berbagai pemimpin dunia serta perwakilan lintas agama, namun nuansanya tetap bersahaja.

Dilaporkan oleh Newsweek, seluruh rangkaian acara sesuai dengan pedoman pemakaman yang dirumuskan sendiri oleh Paus Fransiskus pada 2024.

Dalam dokumen itu ditegaskan bahwa seorang paus harus dilihat sebagai pelayan, bukan sebagai sosok agung yang layak dimuliakan secara berlebihan.

“Beliau tidak ingin ditinggikan secara simbolik maupun literal,” tulis Newsweek, mengutip pedoman tersebut.

Dalam surat wasiat yang dirilis Vatikan beberapa hari sebelum wafatnya, Paus Fransiskus bahkan meminta agar hanya satu kata ditulis di batu nisannya: Franciscus.

Permintaan itu mempertegas niatnya untuk meninggalkan dunia tanpa keistimewaan, sebagaimana ia hidup dalam kerendahan hati.

Chris White, jurnalis dari National Catholic Reporter, menyebut keputusan-keputusan ini sebagai cara Paus untuk menyampaikan pesan kuat kepada dunia.

“Ia ingin menunjukkan bahwa esensi pelayanan bukan pada kemegahan, melainkan pada kerendahan hati,” katanya kepada The Guardian.

Tak hanya dalam pemilihan mobil, seluruh rangkaian pemakaman Paus Fransiskus menolak kemewahan. Tidak ada jenazah yang dipajang berhari-hari seperti dalam tradisi pemakaman sebelumnya, dan tidak digunakan tiga lapis peti seperti lazimnya dalam Gereja Katolik.

Bagi banyak orang, kesederhanaan dalam pemakaman Paus Fransiskus menjadi penutup yang sepadan dengan perjalanan hidupnya.

Dari awal menjabat sebagai pemimpin umat Katolik, ia telah menjadi simbol perubahan, keadilan sosial, dan kedekatan dengan umat. Bahkan di akhir hayatnya, pesan itu tetap disampaikan dengan kuat, tanpa kata, melalui tindakan nyata.