Beritane.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi darurat kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Komisioner KPAI, Dian Sasmita, mengungkapkan bahwa kondisi darurat ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan hingga kini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
“Masalah ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu, dan hingga saat ini statusnya masih darurat,” jelas Dian saat diwawancarai di Kantor KPAI, Jakarta Pusat.
KPAI juga mengkritik respons pemerintah yang dianggap kurang memadai dalam mengatasi masalah ini. Salah satu contohnya adalah kekurangan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA).
Saat ini, UPT DPPA baru tersedia di 331 kabupaten/kota, sementara masih ada lebih dari 200 kabupaten/kota yang belum memiliki unit ini.
“Ketika anak-anak mengalami kekerasan seksual, mereka sering kali belum mendapatkan hak-hak mereka secara penuh, termasuk pemulihan dan pendampingan,” kata Dian.
Masalah ini juga mencakup upaya pencegahan yang dinilai masih kurang di dunia pendidikan Indonesia.
Dian berharap agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) dapat memastikan bahwa lembaga pendidikan yang mereka kelola bebas dari kekerasan seksual.
“Kami menghargai langkah-langkah yang telah diambil pemerintah, tetapi kami juga memberikan beberapa saran untuk meningkatkan layanan dan perlindungan,” imbuhnya.
Isu darurat kekerasan seksual ini juga mendapatkan perhatian dari Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, yang menilai bahwa situasi kekerasan seksual di lembaga pendidikan sangat memprihatinkan.
Dia menyebutkan bahwa ada banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi setiap hari di Indonesia.
“Lembaga pendidikan kita saat ini menghadapi darurat kekerasan seksual. Hal ini terjadi di mana-mana,” ujar Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, dikutip pada Rabu, 21 Agustus 2024.
Cak Imin mengkritik sistem pendidikan yang tidak mendorong siswa untuk berpikir kritis, sehingga mereka menjadi lebih mudah terancam dan takut untuk melapor ketika mengalami kekerasan seksual.
“Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya penghargaan terhadap kemanusiaan dan rendahnya tingkat pemahaman pendidikan di kalangan siswa,” tambahnya.
Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyebut pendidikan Indonesia saat ini gagal. Sebab, terlalu banyak kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan.
Cak Imin menduga penyebab kasus tersebut bisa terjadi. Salah satunya karena pemahaman yang minim.
“Ini karena apa? Karena tidak menghargai kemanusiaan dan karena tingkat pemahaman pendidikan anak-anak kita, siswa-siswa kita sangat rendah,” tutur dia.
“Ditakut-takuti untuk dilecehkan, tiap hari 10-20 kasus yang masuk menjadi bagian pekerjaan rumah kita.”
Semua pihak dari aparat, politikus, masyarakat, tenaga pendidik, harus bekerja sama untuk mengatasi persoalan ini.
“Kita semua khusus menangani itu Insyaallah dengan semangat kita menjadi bagian dari solusi bangsa Insyaallah kepemimpinan daerah di bawah kepemimpinan kita akan selamat, akan aman, akan tentram dan rakyat kita maju sejahtera,” tutup dia.
