beritane.com
beritane.com

Bubur Asyura Aceh, Tradisi Masyarakat Sambut 10 Muharram

Avatar photo
Bubur Asyura Aceh

Beritane.com – Bubur Asyura Aceh merupakan tradisi masyarakat di daerah tersebut untuk sambut datangan 10 Muharram, Tahun Baru Islam 2024.

Menjelang datangnya 10 Muharram, tradisi memasak Bubur Asyura Aceh kembali semarak. Tradisi ini merupakan bagian dari budaya masyarakat Aceh.

Membuat Bubur Asyura Aceh ini dalam rangka menyambut Hari Asyura, hari ke-10 dalam bulan Muharram yang diyakini sebagai hari bersejarah bagi umat Islam.

Bubur Asyura Aceh dimasak dengan menggunakan berbagai macam bahan, seperti beras, kacang-kacangan, sayuran, dan rempah-rempah.

Jumlah bahan yang digunakan biasanya 10 macam, melambangkan 10 peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Tradisi ini mencerminkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang diberikan, serta untuk memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Proses pembuatan Bubur Asyura biasanya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Mereka bahu membahu menyiapkan bahan, memasak, dan membagikan bubur kepada tetangga dan kerabat.

Tradisi ini menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat rasa persaudaraan antar warga.

Bubur Asyura Aceh tidak hanya dinikmati sebagai hidangan lezat, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Bubur yang berwarna-warni melambangkan keragaman dan persatuan umat Islam.

Kacang-kacangan yang dimasak bersama bubur melambangkan kesuburan dan kelimpahan. Sedangkan rempah-rempah yang digunakan melambangkan keharuman dan kebaikan.

Tradisi Bubur Asyura Aceh merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan. Tradisi ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya bangsa, tetapi juga memiliki nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bubur Asyura Aceh

Di Aceh, bulan Muharram, yang menandai tahun baru dalam kalender Islam, dirayakan dengan berbagai tradisi dan ritual yang sarat makna.

Salah satu tradisi yang menonjol adalah memasak Bubur Asyura, sebuah bubur yang kaya akan simbolisme dan nilai budaya.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan tahun baru Islam tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan dan berbagi rezeki dengan sesama.

Sejarah dan makna bubur Asyura Aceh berasal dari kata “Asyura” yang merujuk pada hari ke-10 dalam bulan Muharram. Di banyak budaya Islam, hari Asyura diperingati dengan berbagai cara, termasuk berpuasa dan melakukan amal kebajikan.

Di Aceh, tradisi memasak bubur Asyura pada 1 Muharram memiliki akar sejarah yang dalam dan beragam, termasuk dalam mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti selamatnya Nabi Nuh dan pengikutnya dari banjir besar dengan naik ke kapal yang mereka buat.

Tradisi memasak Asyura memiliki beberapa nilai budaya dan sosial yang penting di antaranya, kebersamaan dan gotong royong.

Proses memasak bubur Asyura melibatkan banyak orang dan dikerjakan secara bergotong-royong. Ini memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota masyarakat. Setiap orang berkontribusi, baik dalam bentuk tenaga, bahan makanan, atau sekadar kehadiran.

Selain itu, membagikan bubur Asyura Aceh kepada warga sekitar, terutama yang kurang mampu, mencerminkan nilai-nilai berbagi dan peduli terhadap sesama. Ini juga sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya membantu dan memperhatikan orang lain.

Melalui tradisi ini, generasi muda diperkenalkan kepada nilai-nilai dan kebiasaan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ini membantu melestarikan warisan budaya dan identitas lokal masyarakat Aceh.

“Masyarakat Aceh memaknai bulan Muharram dengan melakukan berbagai kegiatan secara meriah yang bertujuan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt. Salah satu yang biasa dilakukan dan menjadi ciri khas perayaan bulan Muharam adalah dengan memasak bubur Asyura dalam panci besar,” ungkap Tgk Muhammad Aminullah pakar Ilmu Sosial dan Budaya IAI Al-Aziziyah Samalanga, Aceh seperti dilansir dari laman NU.online.

Aminullah mengatakan masyarakat Aceh yang terkenal dengan nilai-nilai keagamaan dan tradisi keseharian. Tradisi memasak Bubur Asyura sendiri merupakan suatu hal yang tidak boleh dialpakan momen hari Asyura (10 Muharram) yang dilakukan dengan berbagai acara, salah satu yaitu patungan (meuripee).

“Proses memasaknya di lakukan di tempat Umum dengan porsi yang besar. Bubur Asyura nantinya akan dibawa pulang ke rumah masing-masing, dibagikan kepada tetangga, dan bahkan menjadi menu “wajib” untuk berbuka puasa Asyura (10 Muharram),” ujar doses Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry itu.

Ia menjelaskan, bahan-bahan untuk melaksanakan tradisi bubur Asyura di setiap wilayah Aceh boleh saja berbeda. Namun, ada satu yang membuatnya sama, yaitu ia menjadi sarana dalam mempererat silaturahmi antar warga.

“Bubur Asyura karena dibuat dalam porsi besar, warga di setiap wilayah di Aceh bergotong-royong memasaknya. Dari mulai menyiapkan bahan, memotong hingga mengaduk bubur untuk mematangkannya dilakukan bersama-sama. Kemudian bubur yang sudah dimasak tersebut akan dibagikan ke setiap rumah yang ada di wilayah itu,” jelasnya.

Bubur Asyura khas Aceh dibuat dari berbagai bahan yang melambangkan keberagaman rezeki dan keberkahan. Bahan-bahan utama yang digunakan biasanya adalah beras, kacang-kacangan, jagung, ubi, kentang, kelapa, serta aneka bumbu dan rempah. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam proses memasak bubur Asyura:

Semua bahan dicuci bersih dan dipotong sesuai kebutuhan. Kacang-kacangan dan beras biasanya direndam terlebih dahulu untuk mempercepat proses pemasakan.

Bahan-bahan tersebut dimasak bersama dalam satu panci besar. Proses memasak dilakukan secara bergotong-royong oleh warga, biasanya di halaman masjid atau tempat-tempat umum lainnya. Memasak bubur ini bisa memakan waktu berjam-jam karena semua bahan harus tercampur rata dan matang dengan sempurna.

Setelah bubur matang, bubur Asyura dibagikan kepada semua yang hadir, serta didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Tradisi ini menjadi sarana untuk berbagi rezeki dan mempererat silaturahmi di antara masyarakat.

Tradisi memasak Asyura pada 10 Muharram di Aceh bukan hanya sekadar kegiatan memasak, tetapi juga sebuah perayaan yang sarat makna dan nilai-nilai sosial. Dengan menggabungkan elemen-elemen keberkahan, kebersamaan, dan berbagi, tradisi ini terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.