Beritane.com – Baru-baru ini, nama Warung Kopi Cetol Gondanglegi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendadak jadi topik perbincangan hangat warganet.
Topik perbincangan itu bermula dari unggahan sebuah video menampilkan aksi pramusaji cantik yang berada di Warung Kopi Cetol Gondanglegi tersebut.
Pramusaji yang cantik dan aduhai itu memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggannya sambil menikmati manisnya kopi yang mereka suguhkan.
Penasaran seperti apa aktivitas pramusaji di Warung Kopi Cetol Gondanglegi? Berikut ini pengakuan pelanggan yang selalu mampir ke warung kopi tersebut.
Di sudut ramai kawasan Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, terdapat sebuah tempat yang bukan hanya menjual secangkir kopi, tapi juga menyuguhkan pengalaman yang tak terlupakan bagi para penikmatnya.
Nama tempat itu adalah Warung Kopi Cetol Gondanglegi, yang kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Warung ini tidak hanya menawarkan cita rasa kopi khas yang menggoda bibir, tetapi juga atmosfer unik yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Dengan layanan hangat dari para pramusaji yang dikenal ramah, cantik, dan penuh pesona, banyak pelanggan mengibaratkan rasa kopi yang disajikan semanis senyuman para pelayannya.
Menelusuri Daya Tarik Warung Kopi Cetol Gondanglegi
Terletak strategis di jantung pasar tradisional Gondanglegi, warung ini menjadi tempat persinggahan favorit mulai dari pedagang, sopir angkot, hingga para pekerja kantoran.
Bagi mereka, Warung Kopi Cetol Gondanglegi bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan juga ruang bersosialisasi yang penuh keakraban dengan para pramusaji cantik.
https://x.com/i/status/1918333071277146335
Salah satu pelanggan warkop Cetol bernama Razak mengatakan pengalamannya ketika mampir minum kopi ke warung tersebut hingga mendapatkan pelayanan dari pramusaji.
“Saya baru kali ini mampir ke warung kopi ini. Bukan hanya kopinya yang enak, tapi pelayanan para pramusajinya benar-benar luar biasa. Bikin betah pokoknya,” ujarnya.
Menurutnya, pelayanan dari para pramusaji cantik di Warung Kopi Cetol Gondanglegi membuat rasa kopi menjadi nikmat dan manis seperti senyum mereka.
“Kopi yang disajikan di warung ini memang berbeda. Menggunakan racikan khas yang diseduh dengan rasa cinta oleh para pramusaji cantik,” kenangnya.
Aroma yang kuat dan rasa yang pekat namun tetap ringan di lidah, kata Razak, para pengunjung mengaku selalu kembali untuk menikmati “kopi cetol pramusaji” yang menjadi andalan.
Tak heran jika warung ini menjadi ikon kecil di kawasan Pasar Gondanglegi. Baik tua maupun muda, semua merasa nyaman nongkrong di sana sambil bercengkrama dengan pramusaji canti.
Dengan interior sederhana dan meja kayu panjang yang mengajak siapa pun untuk duduk bersama, warung ini menumbuhkan rasa kehangatan yang jarang ditemukan di tempat lain.
Yang tak kalah menarik, tentu saja adalah para pramusaji cantik yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri di Warung Kopi Cetol Gondanglegi.
Dengan dandanan menarik dan kepribadian ceria, mereka bukan hanya melayani pesanan, tapi juga menciptakan suasana yang hidup dan penuh kehangatan.
Menurut Ingatan, salah satu pelanggan dari luar daerah Malang, mengungkapkan pengalamannya minum kopi di warung tersebut sampai menemukan inpirasi tak tertandingi.
“Saya sekali mampir malam hari. Yang bikin saya nyaman bukan cuma kopinya, tapi suasananya. Pramusajinya tahu cara membuat pelanggan menjadi betah,” ujarnya.
Inilah kekuatan utama dari Warung Kopi Cetol Gondanglegi, bukan hanya menjual produk, tetapi memberikan pengalaman berbeda bagi para pelanggannya.
Para penjual kopi berhasil memadukan rasa kopi yang nikmat dengan interaksi sosial yang hangat dan memikat dari kalangan pramusaji cantik kepada pelanggannya.
Dengan kopi seenak itu dan pelayanan semanis pramusaji yang menyajikannya, warung ini layak disebut sebagai permata tersembunyi di tengah kesibukan Pasar Gondanglegi.
Pemerintah Tutup Warung Kopi Cetol Gondanglegi
Puluhan warung kopi yang dikenal dengan sebutan ‘Kopi Cetol’ di kawasan Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, resmi ditutup oleh pemerintah setempat.
Penutupan ini dilakukan lantaran keberadaan warung-warung tersebut mempekerjakan perempuan muda sebagai pramusaji, termasuk tujuh di antaranya masih berusia di bawah umur.
Part2 pic.twitter.com/yWmmPB95gw
— Interesting Thing (@moodsXid) May 2, 2025
Penertiban tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor usia para pramusaji, namun juga karena gaya berpakaian mereka yang dinilai tidak pantas dan menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan warga.
Kebanyakan pengunjung warung merupakan pria dewasa, sehingga muncul keresahan masyarakat terkait potensi pelanggaran norma sosial di lingkungan tersebut.
Seorang warga setempat bernama Rahmat mengungkapkan rasa syukurnya atas langkah tegas yang diambil oleh pihak berwenang menutup warung kopi Cetol Gondanglegi.
Ia menilai bahwa keberadaan warung-warung kopi tersebut telah menimbulkan berbagai persepsi negatif di kalangan masyarakat.
Selain itu, muncul pula kekhawatiran akan adanya aktivitas di luar kegiatan menjual kopi dan makanan ringan yang seharusnya menjadi fungsi utama warung.
“Kami bersyukur akhirnya ada penertiban. Dengan begitu, citra Gondanglegi bisa terjaga. Warung kopi sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi dengan keberadaan pelayan-pelayan perempuan ini jadi muncul image negatif,” ujarnya.
Sementara itu, seorang pedagang berinisial AU mengaku tidak mengetahui asal mula istilah ‘cetol’ yang melekat pada warung-warung tersebut.
Ia menyebut bahwa dalam dialek warga Malang, istilah ‘cetol’ kerap digunakan dalam konteks mencubit. “Kalau di sini, ‘tak cetol lo ya’ artinya ‘tak cubit lo ya’. Biasanya itu ucapan bercanda,” jelas AU.
Dalam bahasa Jawa, kata ‘cetol’ memang memiliki arti mencubit, bisa mencubit tangan, pipi, paha, dan bagian tubuh lainnya.
Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘cetol’ juga didefinisikan sebagai gerakan menjepit dengan jari, biasanya antara ibu jari dan telunjuk.
Sugeng, warga lainnya, mengaku heran dengan istilah warung kopi ‘cetol’. Ia mengatakan konsepnya hampir mirip dengan istilah ‘kopi pangku’, yang juga mengandung konotasi negatif.
“Mungkin istilah itu muncul karena pelayannya perempuan dan sering diperlakukan kurang pantas oleh pengunjung, seperti dicubit dan semacamnya,” kata Sugeng.
Pernyataan serupa juga disampaikan Rahmat, yang menilai bahwa istilah-istilah tersebut muncul dari kebiasaan pengunjung yang memperlakukan pelayan perempuan secara tidak pantas.
Ia pun menyayangkan jika warung kopi yang seharusnya jadi tempat bersantai justru berubah fungsi dan berujung meresahkan warga.
Salah satu pedagang lainnya, berinisial DJ, mengonfirmasi bahwa setelah razia gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, seluruh warung sudah tidak buka lagi.
“Sudah tutup semua, sekarang sudah nggak ada yang buka,” kata DJ, seorang perempuan yang mengenakan jilbab saat ditemui.
DJ menambahkan bahwa mayoritas dari lebih dari 20 warung kopi berukuran kecil, sekitar 3×3 meter, mempekerjakan perempuan sebagai pelayan.
Para perempuan tersebut bertugas menyajikan kopi dan makanan kepada para pelanggan.
Setiap harinya, warung-warung itu biasanya mulai buka sekitar pukul 10.00 WIB dan langsung ramai dikunjungi, terutama oleh kaum muda dan pria dewasa.
Jam operasional biasanya berakhir sekitar pukul 15.00 WIB. “Ramai sekali biasanya. Karena jumlah warungnya juga banyak,” pungkas DJ.
