Beritane.com – Baru-baru ini, serangan roket di Majdal Shams, salah satu dari empat desa di Dataran Tinggi Golan, mengakibatkan kematian 12 anak.
Insiden ini menyoroti pentingnya strategis dan politik Dataran Tinggi Golan di Timur Tengah, sebuah wilayah yang meskipun kecil, memiliki kepentingan besar di kawasan tersebut.
Dataran Tinggi Golan adalah dataran berbatu yang terletak di barat daya Suriah, sekitar 60 kilometer dari ibu kota Damaskus, dengan luas sekitar 1.000 kilometer persegi.
Israel merebut wilayah ini dari Suriah pada akhir Perang Enam Hari tahun 1967. Selama konflik, banyak penduduk Arab Suriah meninggalkan daerah tersebut, dan garis gencatan senjata kemudian ditetapkan dengan wilayah tersebut berada di bawah kendali militer Israel.
Selama Perang Yom Kippur tahun 1973, Suriah mencoba merebut kembali Golan dalam serangan mendadak yang menimbulkan kerugian pada pasukan Israel, namun akhirnya digagalkan.
Perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada tahun 1974, menciptakan zona demiliterisasi sepanjang 70 kilometer yang dipantau oleh pasukan PBB. Meskipun gencatan senjata berlaku, kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang.
Pada Desember 1981, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Menachem Begin, Israel secara sepihak mencaplok Dataran Tinggi Golan.
Komunitas internasional tidak mengakui aneksasi ini dan menyebut Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Suriah yang diduduki.
Resolusi 497 Dewan Keamanan PBB menyatakan keputusan Israel sebagai “batal demi hukum” dan tidak memiliki dampak hukum internasional.
Meskipun demikian, pada Maret 2019, Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengakui aneksasi ini.
Wilayah ini memiliki lebih dari 30 permukiman Yahudi yang dihuni sekitar 20.000 orang, bersama dengan 20.000 warga Suriah, sebagian besar dari etnis Druze.
Permukiman Israel di Dataran Tinggi Golan dianggap ilegal menurut hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.
Suriah menegaskan bahwa mereka tidak akan menyetujui perjanjian damai dengan Israel tanpa penarikan Israel dari seluruh Golan.
Mengapa Wilayah Dataran Tinggi Golan Sangat Penting?
Dataran Tinggi Golan memiliki kepentingan strategis yang signifikan. Dari puncaknya, yang mencapai ketinggian 2.800 meter, dapat terlihat bagian selatan Suriah dan Damaskus.
Wilayah ini pernah menjadi tempat artileri Suriah yang mengarah ke utara Israel dari tahun 1948 hingga 1967.
Setelah diduduki Israel, kawasan ini menawarkan keuntungan strategis seperti titik observasi yang baik dan penghalang alami terhadap serangan militer.
Selain itu, Dataran Tinggi Golan adalah sumber air utama untuk Israel, mengalir ke Sungai Yordan dan menyediakan sepertiga pasokan air negara tersebut. Tanah subur di kawasan ini juga mendukung pertanian dan resor ski.
Israel mempertahankan kendali atas Dataran Tinggi Golan karena berbagai alasan strategis dan keamanan.
Suriah ingin mengembalikan wilayah ini sebagai bagian dari perjanjian damai, tetapi perundingan sering terhambat oleh perbedaan besar mengenai perbatasan dan pemukiman.
Perundingan antara Israel dan Suriah sempat dimulai kembali pada 2008 melalui perantara Turki, namun terhenti karena masalah politik internal.
Presiden AS Barack Obama berusaha memfasilitasi perundingan, tetapi perang saudara Suriah pada tahun 2011 menghentikan kemajuan. Pada 2019, pengakuan AS terhadap kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan semakin memperumit situasi.
Serangan terbaru di Majdal Shams menekankan kembali betapa pentingnya Dataran Tinggi Golan dalam konteks konflik dan kepentingan politik di Timur Tengah.
Sumber: detikcom
