Beritane.com – Ribuan pemimpin dunia, bangsawan Eropa, dan umat Katolik dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus. Misa pemakaman Paus Fransiskus berlangsung pada Sabtu pagi, 26 April 2025, dengan suasana penuh duka dan kekhidmatan.
Upacara pemakaman tersebut menjadi momen bersejarah bagi Gereja Katolik, karena dihadiri lebih dari 150 perwakilan negara, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pernah berselisih pandangan dengan Paus terkait isu imigran. Selain Trump, hadir pula pemimpin dari negara-negara seperti Argentina, Prancis, Jerman, Italia, Filipina, Polandia, dan Ukraina. Turut hadir pula Perdana Menteri Inggris dan Selandia Baru, serta anggota keluarga kerajaan dari Spanyol, Belgia, Norwegia, Swedia, dan Monako.
Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik asal Argentina, wafat pada usia 88 tahun setelah mengalami serangan stroke pada Senin, 21 April 2025. Ia meninggalkan warisan besar sebagai tokoh pembaharu dalam Gereja, yang selama 12 tahun masa kepemimpinannya dikenal berpihak pada kaum miskin, imigran, serta memperjuangkan isu perubahan iklim dan keadilan sosial.
Selama tiga hari terakhir sebelum Misa pemakaman Paus Fransiskus, jenazahnya disemayamkan di depan altar utama Basilika Santo Petrus. Sekitar 250.000 peziarah telah memberikan penghormatan secara langsung dengan berjalan melewati peti jenazahnya. Hari ini, peti mati tersebut diarak melewati pintu utama basilika menuju Lapangan Santo Petrus, tempat dilangsungkannya misa terbuka yang penuh dengan simbol keagamaan dan penghormatan kenegaraan.
Misa pemakaman Paus Fransiskus dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, seorang uskup senior Italia berusia 91 tahun. Ratusan kardinal dan uskup hadir mendampingi jalannya upacara, berdiri sejajar dengan para tamu kenegaraan yang duduk di sisi lain lapangan, menghadap ke altar megah yang telah dipersiapkan untuk misa suci.
Berbeda dari pemakaman Paus sebelumnya, upacara kali ini hanya berlangsung selama 90 menit, menyesuaikan dengan keinginan Fransiskus yang sejak awal dikenal sebagai sosok yang sederhana dan menghindari kemewahan. Ia bahkan menolak tradisi lama yang menggunakan tiga peti mati berbeda, dan hanya meminta untuk dimakamkan dalam satu peti kayu berlapis seng yang telah disegel pada Jumat malam.
Menariknya, Paus Fransiskus juga memilih lokasi peristirahatan terakhir yang tak biasa. Ia akan menjadi paus pertama dalam lebih dari 100 tahun yang dimakamkan di luar Vatikan. Ia memilih Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, sekitar empat kilometer dari Basilika Santo Petrus, sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
Dalam dokumen resmi kepausannya yang ditulis dalam bahasa Latin dan ditempatkan di dekat jenazahnya, disebutkan bahwa Fransiskus meninggalkan warisan berupa “kesaksian kemanusiaan yang luar biasa, kehidupan yang suci, dan teladan seorang pemimpin universal.”
Selama masa jabatannya, ia kerap mendapat kritik dari kalangan konservatif Gereja karena keinginannya untuk melakukan reformasi besar-besaran. Namun, banyak pihak mengakui keberaniannya dalam mengubah wajah Gereja Katolik menjadi lebih inklusif dan relevan dengan tantangan zaman.
Misa pemakaman Paus Fransiskus hari ini menjadi simbol perpisahan dunia terhadap sosok yang telah menginspirasi jutaan orang melalui kesederhanaan, kepedulian terhadap sesama, dan perjuangannya terhadap keadilan global.
