Beritane.com – Pertemuan singkat Donald Trump dan Volodymyr Zelensky di tengah kesunyian dan suasana penuh penghormatan dalam pemakaman Paus Fransiskus berlangsung pada Sabtu menjadi sorotan dunia.
Pertemuan itu berlangsung selama kurang lebih 15 menit, menjadikannya interaksi pertama antara kedua pemimpin sejak ketegangan diplomatik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Keduanya bertemu di sela-sela prosesi pemakaman yang diselenggarakan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Pertemuan ini terbilang penting, mengingat hubungan yang sempat memanas akibat pernyataan kontroversial dari Trump mengenai bantuan militer Amerika Serikat ke Ukraina.
Menurut juru bicara kepresidenan Ukraina, Serhiy Nykyforov, Trump dan Zelensky sepakat untuk melanjutkan diskusi mereka dalam pertemuan kedua yang direncanakan akan berlangsung Sabtu mendatang.
“Tim kami sedang mengatur jadwal lanjutan pembicaraan. Diskusi hari ini berlangsung dalam suasana tertutup dan penuh kehati-hatian,” ujar Nykyforov, seperti dikutip dari France 24.
Melalui akun resmi, Zelensky membagikan foto-foto kebersamaannya dengan Trump, termasuk potret mereka duduk saling berhadapan, serta percakapan bilateral lainnya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Meski berlangsung singkat, pertemuan ini memberikan sinyal bahwa kedua pemimpin membuka kembali komunikasi setelah sekian lama diliputi ketegangan.
Kedua pemimpin, yang masing-masing didampingi oleh istri mereka, duduk di barisan depan prosesi pemakaman, meskipun secara fisik terpisah oleh sejumlah kepala negara lainnya. Tidak ada interaksi publik yang terekam sebelum pertemuan privat berlangsung.
Pertemuan ini dilangsungkan dalam suasana yang tertutup dan tenang, mencerminkan betapa sensitifnya isu yang dibicarakan. Steven Cheung, Direktur Komunikasi Gedung Putih, menyebutkan bahwa pertemuan itu merupakan “diskusi yang sangat produktif” dan akan diikuti dengan pernyataan resmi dalam waktu dekat.
Hubungan Donald Trump dan Volodymyr Zelensky sebelumnya mengalami ketegangan serius, terutama setelah Trump dan Wakil Presiden JD Vance mengkritik keras Zelensky dalam pertemuan di Oval Office pada 28 Februari lalu.
Mereka menyebut Zelensky tidak cukup berterima kasih atas bantuan militer miliaran dolar dari AS sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Trump, yang baru-baru ini kembali mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan ke Ukraina, telah mengisyaratkan bahwa penyelesaian konflik memerlukan sikap kompromi dari Kyiv.
Salah satu hal yang menjadi titik berat adalah desakan agar Ukraina mengakui Krimea sebagai bagian dari Rusia, sebuah pandangan yang ditolak keras oleh Zelensky.
Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump mengatakan bahwa Rusia dan Ukraina “sangat dekat dengan kesepakatan” dan menyerukan agar kedua belah pihak segera bertemu di tingkat tinggi.
Ia mengklaim bahwa sebagian besar poin penting telah disepakati, meskipun detailnya masih belum diungkap ke publik.
Di sisi lain, Zelensky tetap menolak keras kemungkinan menyerahkan wilayah Krimea. Ia menegaskan bahwa integritas wilayah Ukraina bukanlah hal yang bisa ditawar dalam proses perdamaian.
Di saat yang sama, pertemuan antara Trump dan utusan AS Steve Witkoff dengan Putin juga menjadi topik hangat, terlebih karena terjadi sesaat setelah seorang jenderal Rusia tewas dalam serangan bom mobil di pinggiran Moskow.
Donald Trump dan Volodymyr Zelensky kembali menjadi pusat perhatian global dalam pemakaman ini, di tengah kehadiran sekitar 50 kepala negara dan berbagai tokoh penting dunia lainnya, termasuk Pangeran William dari Inggris serta Ursula von der Leyen dari Uni Eropa.
Trump, yang hadir dengan setelan jas gelap dan dasi biru, tampak serius saat memberi penghormatan di depan peti jenazah Paus Fransiskus, sementara Melania mengenakan kerudung hitam sesuai protokol Vatikan.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa pertemuan diplomatik di sela-sela pemakaman akan berlangsung dengan cepat, karena “tidak sopan jika mengadakan negosiasi panjang di tengah prosesi penghormatan untuk pemimpin spiritual dunia.”
Meski demikian, momen Donald Trump dan Volodymyr Zelensky di Vatikan tampaknya menjadi titik awal bagi babak baru dalam hubungan bilateral yang sebelumnya dirundung ketegangan.
Dunia kini menantikan apakah pertemuan kedua nanti benar-benar akan membuka jalan menuju de-eskalasi konflik dan perundingan damai yang nyata.
