Beritane.com – Cacar Monyet Mpox merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh virus monkeypox dan berasal dari hewan pengerat Afrika seperti monyet.
Virus cacar monyet Mpox atau Monkeypox, telah menarik perhatian global, termasuk dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang telah menetapkan kondisi ini sebagai darurat kesehatan global.
Mpox merupakan salah satu jenis virus cacar, serupa dengan cacar air dan cacar sapi, yang ditandai dengan munculnya ruam serta benjolan pada kulit.
Pada cacar air, lenting-lenting ini umumnya terisi cairan sebelum akhirnya membentuk kerak. Mpox disebabkan oleh virus monkeypox, yang merupakan penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Penularan dari hewan biasanya terjadi melalui kontak fisik dengan hewan yang terinfeksi, seperti rodentia dan primata.
Untuk mengurangi risiko, disarankan untuk menghindari kontak dengan hewan liar yang sakit atau mati, serta memastikan daging hewan dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi di negara-negara endemik.
Dokter dan epidemiolog, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa penelitian mengenai Mpox masih terbatas, terutama karena penyakit ini telah lama dianggap terabaikan, terutama di Afrika.
“Penelitian tentang Mpox minim karena sebagian besar kasus terjadi di Afrika, yang kurang mendapatkan perhatian global,” kata Dicky dikutip beritane.com dari CNBC Indonesia, Kamis (22/4/2024).
Dicky menambahkan bahwa meskipun virus Mpox (yang merupakan virus DNA) tidak bermutasi secepat virus RNA, sikap pembiaran dan perilaku berisiko dapat menyebabkan penyebaran yang lebih luas dan kemungkinan mutasi yang lebih berbahaya. Oleh karena itu, pencegahan dan mitigasi sangat penting.
Situasi Caca Monyet Mpox di Indonesia
Mpox telah terdeteksi di Indonesia dengan total 88 kasus konfirmasi sejak tahun 2022 hingga Agustus 2024.
Kasus pertama di Indonesia dilaporkan pada Oktober 2022, dan setelah periode tanpa kasus, Indonesia melaporkan kasus baru pada 13 Oktober 2023.
Sepanjang tahun 2023, terdapat 72 kasus yang dikonfirmasi, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemantauan aktif, dukungan, dan layanan medis serta konseling.
Laporan “Technical Report Mpox di Indonesia Tahun 2023” yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2024 menunjukkan bahwa gejala paling umum dari Mpox meliputi lesi, demam, ruam, dan limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening).
Gejala lainnya termasuk nyeri tubuh, kelemahan, dan sakit kepala. Durasi penyembuhan bervariasi antara 2 hingga 4 minggu, dengan periode paling singkat adalah 14 hari setelah gejala pertama muncul.
Dicky Budiman menekankan bahwa vaksin tetap diperlukan, meskipun tidak untuk masyarakat umum, melainkan untuk kelompok berisiko.
“Kami beruntung sudah ada dua jenis vaksin yang dapat digunakan sebagai perlindungan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya penelitian berkelanjutan untuk mengatasi Mpox.
Jika dibandingkan dengan Covid-19, Mpox cenderung lebih ringan. Covid-19 dianggap lebih serius karena merupakan penyakit baru bagi manusia dan dapat menular ke semua orang tanpa pandang bulu, dengan keterbatasan vaksin dan pengobatan pada awalnya.
Dalam hal penularan, Dicky menjelaskan bahwa Mpox menular melalui kontak langsung atau jarak dekat, dan tidak melalui udara.
“Mpox tidak menular melalui udara, sehingga seseorang tidak akan terinfeksi hanya dengan berpapasan,” tutup Dicky.
Gejala dan Pengobatan
Cacar monyet, atau Mpox, adalah penyakit yang gejalanya mirip dengan cacar air namun biasanya lebih ringan. Gejala cacar monyet dapat muncul dalam rentang waktu 5 hingga 21 hari setelah paparan virus.
Gejala Cacar Monyet
- Periode Invasi Pada tahap awal, gejala yang sering muncul meliputi:
- Demam, yang merupakan gejala umum pada awal penyakit.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot.
- Nyeri punggung.
- Kelelahan.
- Menggigil.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Sekitar 1 hingga 3 hari setelah munculnya gejala awal, ruam akan muncul pada berbagai bagian tubuh seperti wajah, tangan, kaki, mulut, area genital, dan mata.
- Periode Erupsi Kulit Ruam akan berkembang menjadi lesi yang melalui beberapa tahapan:
- Makula: Lesi datar yang berubah warna.
- Papula: Lesi yang sedikit terangkat.
- Vesikel: Lesi yang membentuk benjolan dengan cairan bening di dalamnya.
- Pustula: Cairan dalam lesi berubah menjadi kekuningan.
Setelah tahap pustula, lesi akan kering dan mengelupas. Gejala ini biasanya bertahan antara 2 hingga 4 minggu dan dapat membaik dengan sendirinya.
Pengobatan Cacar Monyet
Saat ini, belum ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan cacar monyet secara langsung. Pengobatan yang tersedia umumnya bertujuan untuk meredakan gejala.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerapkan tiga langkah utama dalam penanggulangan cacar monyet:
- Surveilans: Pemantauan dan pelacakan kasus.
- Terapeutik: Terapi untuk meredakan gejala serta penyediaan logistik untuk antivirus khusus cacar monyet, meskipun tidak semua pasien memerlukannya.
- Vaksinasi: Upaya untuk melindungi kelompok berisiko.
Antivirus diberikan terutama kepada pasien yang berisiko tinggi mengalami gejala berat atau sudah menunjukkan gejala serius, seperti:
- Lebih dari 100 lesi pada kulit.
- Gejala berat lainnya, seperti demam tinggi, mual, dan muntah.
- Lesi pada area vital seperti mata, yang dapat mengancam penglihatan, atau tenggorokan, yang dapat menyumbat saluran napas.
Menurut dr. Robert Sinto, Sp.PD, K-PTI, FINASIM dari Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia, saat ini belum ada pasien di Indonesia yang membutuhkan antivirus.
Namun, kelompok yang lebih berisiko, seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan kondisi medis tertentu atau yang sedang mengonsumsi obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, mungkin memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.
