Beritane.com – Di tengah budaya timur yang kental di Indonesia, konsep open marriage masih terasa asing dan sering dianggap tabu. Banyak orang belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan open marriage.
Pernikahan terbuka dianggap kontroversial karena bertentangan dengan prinsip monogami yang umumnya dianut dalam rumah tangga tradisional di Indonesia. Namun, praktik ini telah mulai dikenal dalam budaya barat.
Penting untuk dicatat bahwa pernikahan terbuka berbeda dari poligami. Jadi, apa sebenarnya open marriage itu? Berikut penjelasan mendalam mengenai konsep ini.
Definisi Open Marriage
Menurut Psych Central, open marriage adalah jenis hubungan pernikahan di mana pasangan diperbolehkan untuk terlibat dalam hubungan seksual dengan orang lain.
Berbeda dengan perselingkuhan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pernikahan terbuka dilakukan dengan keterbukaan dan persetujuan dari kedua belah pihak.
Dalam pernikahan terbuka, pasangan harus saling memberi izin atau terbuka mengenai keinginan mereka untuk berhubungan dengan orang lain.
Dengan demikian, pernikahan terbuka menekankan pada konsensus dan komunikasi yang jelas antara pasangan utama.
Konsep ini juga berbeda dari poligami, karena dalam pernikahan terbuka, tidak ada kewajiban untuk menikahi pasangan baru. Fokus utama adalah pada kepuasan pribadi tanpa adanya tanggung jawab tambahan.
Menurut Very Well Mind, meskipun open marriage menawarkan peluang untuk mengeksplorasi hubungan dengan orang lain, prioritas utama tetaplah pasangan utama, baik suami maupun istri.
Dampak Pernikahan Terbuka
Meskipun open marriage mungkin tampak menarik bagi beberapa orang yang ingin mengeksplorasi seksualitas sambil tetap dalam ikatan pernikahan, ada beberapa dampak negatif yang perlu dipertimbangkan.
Menurut E-Counseling, berikut adalah beberapa konsekuensi dari pernikahan terbuka:
1. Memicu Kecemburuan
Meskipun pernikahan terbuka dirancang untuk mengurangi kecemburuan, kenyataannya kecemburuan tetap bisa muncul.
Emosi ini adalah reaksi alami dan bisa timbul bahkan ketika pasangan berusaha untuk tidak merasa cemburu. Perasaan membandingkan diri dengan ‘kekasih’ baru pasangan dapat memicu perselisihan dan merusak hubungan.
2. Merusak Kepercayaan Diri
Pernikahan terbuka dapat mengganggu kepercayaan diri seseorang. Sering kali, individu dalam pernikahan terbuka merasa tertekan untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain.
Jika seseorang merasa bahwa ‘kekasih’ pasangan lebih menarik, pintar, atau sukses, hal ini dapat merusak kepercayaan diri dan harga diri.
3. Kehamilan Tanpa Rencana
Meski telah dilakukan perencanaan yang matang, kemungkinan kehamilan yang tidak direncanakan tetap ada. Hal ini bisa berdampak negatif pada pasangan utama, terutama jika mereka belum siap untuk memiliki anak.
Kehamilan mendadak dapat menambah beban dan memicu konflik dalam hubungan.
4. Risiko Penyakit Menular Seksual (PMS)
Aktivitas seksual dengan banyak pasangan meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual (PMS). Meski tindakan pencegahan dilakukan, risiko PMS tetap ada. Jika salah satu pasangan tertular PMS, hal ini dapat merugikan semua pihak yang terlibat.
Penting untuk memahami implikasi dari open marriage sebelum memutuskan untuk menerapkannya dalam hubungan.
