Mbok Yem, Pemilik Warung Pucak Gunung Lawu Meninggal Dunia

Mbok Yem Gunung Lawu Meninggal Dunia

Beritane.com – Kabar duka datang dari lereng Gunung Lawu. Mbok Yem, sosok legendaris yang dikenal sebagai pemilik warung tertinggi di Indonesia, telah berpulang pada Rabu sore (23/4).

Perempuan tangguh bernama asli Wakiyem ini menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat menjalani perawatan akibat kondisi kesehatan yang menurun.

“Iya, Mbok Yem meninggal tadi sekitar jam setengah tiga sore. Sempat dirawat di rumah sakit, lalu dibawa pulang. Dan hari ini beliau tutup usia,” ujar Esa Adi Prasetyo, porter Gunung Lawu, kepada media.

Menurut Esa, kondisi Mbok Yem memang sudah sangat lemah. Usia yang lanjut serta tekanan darah rendah membuat tubuhnya tak lagi mampu bertahan.

Kesehatannya menurun drastis sejak beberapa waktu lalu, hingga akhirnya harus meninggalkan warung yang selama puluhan tahun menjadi “rumah kedua”-nya di atas awan.

Turun Gunung, Tak Pernah Kembali

Biasanya, Mbok Yem hanya turun gunung menjelang Lebaran, sebagai bagian dari tradisi pribadinya. Namun tahun ini berbeda.

Pada 4 Maret lalu, ia harus dievakuasi lebih awal lewat jalur Cemoro Sewu dengan bantuan tandu karena kesehatannya yang memburuk.

Siapa sangka, itulah momen terakhir ia meninggalkan puncak Gunung Lawu yang telah menemaninya selama lebih dari empat dekade.

Kini, sejumlah relawan dan petugas dari berbagai basecamp pendakian Gunung Lawu sedang dalam perjalanan menuju rumah duka.

Prosesi pemakaman masih dalam tahap persiapan. Sosok sederhana ini memang begitu dicintai oleh komunitas pendaki dan pecinta alam dari berbagai penjuru Indonesia.

Warung Legendaris di Atas Awan

Bagi para pendaki, Mbok Yem bukan sekadar penjual makanan. Ia adalah penjaga semangat, pemberi kehangatan di dinginnya puncak Gunung Lawu.

Warungnya berdiri kokoh di ketinggian 3.150 mdpl—hanya sekitar 115 meter dari puncak Lawu yang menjulang setinggi 3.265 mdpl. Di sanalah ia menyajikan teh hangat, nasi pecel, mie rebus, dan senyum tulus yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Sejak tahun 1980-an, Mbok Yem telah melayani ribuan, bahkan mungkin jutaan, pendaki yang menapakkan kaki di jalur Lawu. Meski berada di tempat ekstrem, stok dagangan di warungnya tak pernah kosong.

Pasalnya, ia dibantu oleh para pembawa logistik yang mendaki hingga tiga kali seminggu untuk memastikan semua kebutuhan tersedia.

Warisan Mbok Yem Tak Akan Pernah Hilang

Lebih dari sekadar warung, kehadiran Mbok Yem di puncak Lawu telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual banyak pendaki.

Ia adalah simbol kekuatan, keikhlasan, dan keteguhan. Meski raganya kini telah tiada, jejaknya akan terus hidup dalam setiap langkah yang menapaki jalur Lawu.

Selamat jalan, Mbok Yem. Puncak Lawu tak akan pernah sama tanpamu, tapi semangatmu akan selalu menemani setiap pendaki menuju langit.

Exit mobile version