Marc Marquez Ungkap Alasan Mengapa Gaya Balap Casey Stoner Tidak Lagi Digunakan di MotoGP

Gaya Balap Casey Stoner

Beritane.comMarc Marquez baru-baru ini mengungkapkan alasan mengapa gaya balap khas Casey Stoner tidak lagi diterapkan oleh pembalap MotoGP saat ini.

Casey Stoner dikenal dengan teknik membalap yang unik, termasuk sering melakukan drifting atau geseran ke samping saat memasuki tikungan.

Namun, Marquez menjelaskan bahwa gaya balap tersebut kini tidak lagi dipraktikkan oleh pembalap modern.

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah dampak negatif terhadap aerodinamika motor. Drifting saat pengereman, kata Marquez, dapat merusak performa aerodinamika motor balap.

“Pada saat pengereman dan memasuki tikungan, penting untuk mengikuti respons motor daripada hanya mengikuti keinginan pribadi,” ujar Marquez dalam wawancaranya dengan Crash, Kamis (15/8).

“Jika kita menengok ke masa lalu, seperti saat Casey Stoner atau bahkan Dani Pedrosa berlomba, mereka sering melakukan slide dengan roda belakang saat memasuki tikungan,” tambahnya.

“Namun, kini hal tersebut jarang terlihat. Kenapa? Karena gaya tersebut merusak aerodinamika motor dan membuatnya lebih sulit dikendalikan,” jelas Marquez.

Meskipun perubahan gaya balap ini, persaingan di MotoGP tetap berlangsung sengit. Setiap seri balapan tetap menarik, dengan kompetisi untuk meraih kemenangan yang intens.

Marc Marquez sendiri terus menunjukkan performa gemilang setelah bergabung dengan tim satelit Ducati, Gresini Racing, pada musim 2023. Marquez tetap menjadi salah satu pembalap yang berperan penting dalam persaingan di podium setiap seri.

Lucio Cecchinello Bongkar Rahasia Gaya Balap Casey Stoner

Lucio Cecchinello, pendiri tim balap yang berperan dalam membimbing karier Casey Stoner, berbagi cerita mengenai kesan pertamanya terhadap pembalap Australia tersebut.

Cecchinello, yang telah mendirikan timnya sendiri sejak 1996, mendapatkan tawaran dari sponsor besar untuk membentuk tim di kelas 125cc dan 250cc.

Pada saat itu, Cecchinello, yang berlaga di kategori yang lebih rendah, memutuskan untuk menggandeng Alex de Angelis sebagai salah satu pembalapnya.

Dalam program GPOneCar di kanal YouTube, Cecchinello mengungkapkan momen bersejarah saat Stoner memulai debutnya di Qatar.

“Saya teringat betul momen pertama kali melihat Stoner. Semua orang tentu sudah mengetahui kisahnya di MotoGP,” kenang Cecchinello.

Cecchinello mengungkapkan bahwa sebelum memutuskan untuk merekrut Stoner, ia mendapat tawaran dari Aprilia, yang menyarankan untuk mencari pembalap untuk tim 125cc dan 250cc.

Cecchinello kemudian mencari pembalap melalui koneksinya, termasuk Alberto Puig, manajer tim Honda Racing, yang menawarkan Stoner.

“Saya menghubungi Alberto Puig, dan dia memberi tahu bahwa Casey Stoner sedang beristirahat di camper di rumahnya di Provinsi Barcelona,” cerita Cecchinello.

“Saat saya sampai di sana, saya melihat bus yang diubah menjadi camper, dengan kondisi di dalamnya berantakan—tempat tidur, mesin cuci, dan pakaian berserakan. Di sana ada Stoner, dan saya mengajaknya untuk melakukan tes di Jerez,” tambah Cecchinello.

Tes di Jerez menjadi momen penting, di mana Stoner menunjukkan kemampuannya dengan mencatat waktu yang hanya terpaut setengah detik dari Marco Melandri, yang menggunakan motor resmi.

“Stoner hanya terpaut 0,4 detik dari Melandri. Setelah beberapa lap, rem belakang motor Stoner mulai berasap, menunjukkan bahwa dia mungkin terlalu sering mengerem di belakang. Kami perlu menyesuaikan pengaturan rem,” jelas Cecchinello.

“Setelah tes, kami menemukan bahwa rem belakang mengalami kerusakan. Kami memasang sensor tekanan rem pada telemetri dan menemukan bahwa gaya balap Stoner adalah dengan memanfaatkan rem belakang untuk membuka gas lebih awal. Gaya balap ini ternyata menjadi salah satu rahasia keberhasilan Stoner di trek.”

Cecchinello juga mencatat bahwa Stoner adalah satu-satunya pembalap yang mampu membawa Ducati meraih gelar juara dunia di ajang balap premier.

“Pada tahun 2007, Ducati belum diperhitungkan. Namun, Stoner bisa mengendalikan motor tersebut berkat kemampuannya dalam mengelola kontrol traksi,” ungkapnya.

Exit mobile version